Wisata

1. Kesenian Jegog

Jegog adalah ensambel musik tradisional khas Kabupaten Jembrana yang terbuat dari bambu. Dalam beberapa tulisan disebutkan, bahwa pada awalnya kesenian ini sebagai hiburan pengisi waktu pada saat petani menghalau burung di sawah. Alat musik jegog juga difungsikan sebagai alat untuk mengumpulkan masyarakat sebagai pertanda dimulainya kegiatan kemasyarakatan seperti gotong royong dan lain sebagainya. Pada perkembangan berikutnya Jegog dikembangkan sebagai ensambel /barungan gambelan oleh seorang seniman yang bernama Kiang Gliduh dari Dusun Sebual Desa Dangintukadaya sekitar Tahun 1912. Kata Jegog diambil dari instrumen Gong Kebyar yang paling besar.

Diantara gambelan Bali yang terbuat dari bambu, maka Jegog inilah yang mempunyai ukuran paling besar terutama bagian instrumennya yang paling belakang biasa disebut Jegogan. Beberapa sumber mengatakan bahwa bentuk gambelan jegog yang angkuh dan terkesan sombong ini, merupakan bentuk perlawanan secara kultural kepada penguasa pada saat itu, karena seperti kita ketahui, bahwa cikal bakal penduduk jembrana, merupakan tahanan politik yang dibuang ke jimbarwana nama lain dari Jembrana pada masa kerajaan. Kesenian jegog disamping disajikan secara instrumentalia, juga berfungsi mengiringi tari khas daerah Jembrana yang bernama Tari Jegog. Gerak-gerak tari jegog banyak diangkat dari Pencak Silat. Akan tetapi yang paling khas dari pementasan kesenian ini, adalah Jegog Mebarung; yaitu dua group crew jegog menyajikan tabuh jegog secara bersamaan. Ada ciri khas cara menabuh/ memukul instrumennya yang berukuran terbesar, dimana penabuhnya jongkok bertengger diatas bagian belakang gambelannya. Tiap-tiap instrumen mempunyai jumlah nada yang sama, yaitu delapan buah atau dua oktaf. Larasnya adalah laras selendro, tetapi hanya memakai empat nada hingga memberi nada selendro dengan warna yang khas. Satu barung gambelan Jegog terdiri dari tiga tungguh Barangan, tiga tungguh Kancilan, tiga tungguh Suir, dua tungguh Kuntung, dua tungguh Undir, dan satu Jegogan. Jegog tersebar hampir diseluruh desa di Kabupaten Jembrana. Sebagai kesenian profan/upah-upahan eksistensi kesenian jegog sangat bergantung kepada minat pengupahnya. Oleh karenanya jumlah kesenian ini terkadang fluktuatif. Dari data yang ada kesenian jegog saat ini masih tersisa 85 group/sekaa. Kini gambelan Jegog sangat populer di luar negeri terutama Negeri Sakura Jepang. Hampir tiap tahun ada saja group kesenian dari Jembrana yang melakukan pementasan di Jepang. Beberapa Event juga pernah mengundang Kesenian Jegog sebagai pengisi acara seperti pembukaan World Cup di Prancis Tahun 1998. Terakhir Kesenian Jegog dipelajari oleh group Sekar Jaya di California Amerika Serikat, dan sering tampil pada ajang Pesta Kesenian Bali di Denpasar.

Untuk di Kelurahan Sangkaragung terdapat pusat kesenian khas Jembrana yaitu " Jegog ".terkenal didunia dengan kesenian Jegognya terutama di Jepang. Jegog Sangkaragung tampil di Jepang setiap tahunnya lebih dari tiga kali. Sedangkan di Kelurahan Sangkaragung sendiri Jegog dipentaskan untuk wisatawan setiap hari Minggu dan Kamis di Sanggar Jegog Suar Agung. Wsatawan dapat belajar memainkan (menabuh) jegog di sanggar ini

2. Makepung

Makepung adalah atraksi balapan kerbau berasal dari Kabupaten Jembrana, Bali. Kata Makepung berasal dari kata makepung-kepungan (bahasa Bali) artinya berkejar-kejaran, inspirasinya muncul dari kegiatan tahapan proses pengolahan tanah sawah yaitu tahap melumatkan tanah menjadi lumpur dengan memakai lampit. Lampit ditarik oleh dua ekor kerbau dan sebagai alat penghias kerbau, maka pada leher kerbau tersebut dikalungi gerondongan (gongseng besar) sehingga apabila kerbau tersebut berjalan menarik lampit maka akan kedengaran bunyi seperti alunan musik. Karena bekerja gotong royong maka ada banyak lampit yang masing-masing ditarik oleh dua ekor kerbau yang ditunggangi oleh seorang joki duduk di atas lampit. Atraksi ini dikenal masyarakat sekitar tahun 1920-an. Atraksi Makepung di sawah ini berkembang sekitar tahun 1930 dan ada di masing-masing desa yang jokinya berpakaian seperti prajurit kerajaan di Jembrana zaman dahulu, yaitu memakai destar, selendang, selempod, celana panjang,saputpoleng (warna hitam putih), tanpa alas kaki dan membawa pecut. Dalam perkembangannya, Makepung kemudian dilakukan di jalanan yang ada di sekitar sawah. Jalan tanah berpasir merupakan lokasi favorit untuk balapan. Lintasan seperti ini mengharuskan peserta makepung melakukan beberapa perubahan agar balapan berlangsung lebih efektif. Bajak yang digunakan pada lintasan lumpur kemudiaan diganti pedati kecil sejak era tahun 1930-an. Pada tahun 1960 makepung dikumpulkan dalam satu organisasi yang terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok Ijo Gading Timur dan kelompok Ijo Gading Barat. Makepung dibagi menjadi 2 wilayah (blok), yaitu blok barat (hijau),blok timur (merah).Nama nama kerbau terkenal di blok barat di antaranya:moncong putih,dewi natalia,prabu angin rebut. Untuk blok timur:barong sangkar agung,lubak barak,sawung galing,mega dewi.Kedua blok akan bertemu dalam perlombaan resmi setiap dua minggu sekali. Setiap blok mempunyai sirkuit sendiri yang kerap digunakan sebagai lokasi berlatih ataupun lomba yang bersifat resmi. Seperti biasanya sebelum acara lomba Makepung, malam harinya diadakan tatap muka sekaa makepung dengan koordinator dan ketua untuk pertandingan rutin, sedangkan untuk Bupati Cup dihadiri Bupati Jembrana, dalam acara tatap muka ini juga digelar malam kesenian untuk menghibur para sekaa dan masyarakat. Pelaksanaan Lomba Makepung dimulai jam 07.30 wita berlangsung seru.

Untuk di Kelurahan Sangkaragung terdapat Lintasan Sirkuit Makepung yang terletak di Lingkungan Samblong,

Pargelaran makepung di sirkuit Samblong diatur oleh kelompok/sekeha makepung Kabupaten Jembrana